lmu manajemen telah melalui perkembangan yang signifikan sejak dikembangkan pertama kali pada abad ke-20. Berikut adalah beberapa tahap penting dalam perkembangan ini, serta pengaruhnya terhadap praktik manajemen dan pendidikan manajemen.
1. Era Awal (Awal abad 20)
Pada era ini, ilmu manajemen dikembangkan secara bertahap dengan fokus pada aspek teknikal dan operasional dalam mengelola perusahaan. Buku "Principles of Scientific Management" oleh Frederick Winslow Taylor pada tahun 1911 menjadi salah satu dasar pendasar ilmu manajemen. Era ini juga melihat pengembangan teori produktivitas dan pengelolaan tenaga kerja.
2. Era Sekunder (1950-1970)
Pada era ini, ilmu manajemen mengembangkan lebih jauh dalam bidang organisasi dan komunikasi. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan perusahaan besar dan kompleks yang memerlukan sistem lebih efektif dalam mengelola struktur organisasi dan komunikasi. Bukti dari ini adalah "The Human Side of Enterprise" oleh Douglas McGregor pada tahun 1960.
3. Era Tersier (1970-1990)
Pada era ini, ilmu manajemen menggandeng konsep sistem dan teori sosial dalam memahami peran masing-masing individu dalam organisasi. Hal ini membawa perubahan dalam fokus pada manajemen perorangan dan pengaruh individu terhadap kinerja organisasi. Buku "In Search of Excellence" oleh Tom Peters dan Robert Waterman pada tahun 1982 menjadi populer dalam menggariskan kepentingan manajemen perorangan.
4. Era Keempat (1990-sekarang)
Pada era ini, ilmu manajemen mengalami perkembangan yang lebih meluas dan kompleks. Fokus pada ini adalah pengembangan manajemen global, inovasi, dan pengaruh teknologi terhadap organisasi. Konsep manajemen sosial, etik, dan lingkungan juga menjadi fokus penting. Buku "The Digital Transformation Playbook" oleh David L. Rogers pada tahun 2016 menunjukkan peran teknologi dalam transformasi manajemen.
Dalam konteks artikel ini, perkembangan ilmu manajemen memberikan pandangan meluas tentang bagaimana ilmu manajemen telah berpernah dan berpengaruh pada praktik manajemen dan pendidikan manajemen.
- Prespektif Manajemen Klasik
Teori Manajemen Aliran Klasik mendefinisikan manajemen sesuai dengan fungsi-fungsi manajemennya.Perhatian kemampuan manajer sangat dibutuhkan saat penerapan. Dalam fattanh (2000:22) teori manajemen klasik berasumsi bahwa manusia itu sifatnya rasional, berfikir logis, dan kerja merupakan suatu yang diharapkan. Oleh karena itu teori klasik berangkat dari premis bahwa organisasi bekrja dalam proses yang login dan rasional dengan pendekatan ilmiah dan berlangsung menurut struktural atau anatomi organisasi.
- Prespektif Manajemen Prilaku
Perspektif manajemen prilaku adalah suatu konsep yang memfokuskan pada pengelolaan sosial dan interaksi antara individu dalam organisasi. Ini membantu membangun kultur kerja yang sehat dan mengembangkan sinergi antara karyawan. Manajemen prilaku tersebut dapat diaplikasikan dalam beberapa aspek penting, seperti :
1. Komunikasi
2. Pengembangan Karir
3. Prilaku Profesional
4. Solusi
5. Konflik
6. Kinerja
7. Pengolahan sumber daya manusia
- Prospektif Manajamen Kuantitatif
Prospektif manajemen kuantitatif adalah konsep yang fokus pada penggunaan metode dan teknik statistik, analisis data, dan model matematis untuk membantu pembagian keputusan dalam organisasi. Ini membantu manajer untuk memprediksi, membandingkan, dan memahami dampak keputusan yang akan ditetapkan. Beberapa aspek penting dalam prospektif manajemen kuantitatif antara:
- Analisis Data
- Model Prediktif
- Optimasi
- Analisis Resiko
- Perancangan Operasional
- Evaluasi Keberhasilan
- Teori Manajemen Kontemporer
Teori manajemen kontemporer adalah gagasan yang mengumpulkan beberapa konsep dan metodologi manajemen yang relevan dengan era modern atau globalisasi. Ini mempertimbangkan aspek-aspek yang lebih luas, seperti peran individu, kelompok, masyarakat, dan lingkungan dalam proses manajemen. Beberapa teori manajemen kontemporer penting antara:
- Manajemen Sosial
- Manajemen Inovasi
- Manajemen Lingkungan
- Manajemen Kualitatif
- Manajemen Resiko
- Manajemen Global
- Manajemen Informasi
Praktik manajemen sejatinya telah dilakukan sejak manusia belum mengenal ilmu ini secara resmi.
Contohnya pembangunan piramida di Mesir.
Pembangunan piramida pertama di Mesir dilakukan pada tahun 2630-2611 SM.
Melibatkan ratusan ribu pekerja, dan memakan waktu sampai sekitar 20 tahun.
Proses pembangunan piramida ini tentu melibatkan perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, dan kontrol.
Tentu saja mereka memiliki pemimpin dan orang-orang yang bertanggung jawab untuk mengatur pekerjaan agar dapat selesai sesuai target.
Apa pun sebutannya pada masa itu, kegiatan tersebut merupakan praktik ilmu manajemen
1. Harrington Emerson
Harrington Emerson adalah seorang insinyur industrial terkenal pada awal abad ke-20 yang dikenal karena kontribusinya terhadap manajemen efisiensi dan produktivitas. Salah satu prinsip utama yang dikemukakannya adalah "Prinsip 80/20", yang sering disebut sebagai "hukum vital dan esensial" dari manajemen efisiensi.
2. Henri Fayol
Henri Fayol adalah seorang teoritikus manajemen Prancis yang terkenal dengan teori-teori manajemen administratifnya. Menurut Fayol, fungsi-fungsi manajemen merupakan serangkaian tugas dan tanggung jawab manajer yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. Berikut adalah enam fungsi manajemen menurut Henri Fayol:
- Prespektif Manajemen Prilaku
- Teori Motivasi: Salah satu aspek kunci dari manajemen perilaku adalah memahami motivasi individu di tempat kerja. Teori-teori motivasi seperti Teori Hirarki Kebutuhan Maslow, Teori X dan Y McGregor, dan Teori Kebutuhan McClelland membantu manajer memahami apa yang mendorong karyawan untuk bertindak.
- Teori relasi manusia adalah pendekatan dalam ilmu sosial yang mempelajari interaksi antara individu dalam konteks organisasi dan lingkungan kerja. Teori ini berkembang sebagai tanggapan terhadap pendekatan manajemen yang lebih otoriter pada awal abad ke-20, yang dianggap terlalu fokus pada tugas dan struktur formal organisasi, sementara mengabaikan aspek manusiawi seperti hubungan antarpribadi dan kebutuhan psikologis karyawan.
- Teori relasi manusia mengemukakan bahwa kepuasan kerja dan kinerja karyawan dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan psikologis, seperti hubungan interpersonal, kepuasan kerja, motivasi, dan kebutuhan psikologis dasar. Teori ini menekankan pentingnya hubungan yang positif antara manajer dan karyawan, komunikasi yang terbuka, dukungan sosial di tempat kerja, serta pemberian tanggung jawab dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.
- Teori Manajemen Kontemporer
Beberapa pendekatan sudah dibicarakan di muka, yaitu pendekatanpendekatan tersebut mengalami perkembangan. Adanya beberapa perkembangan yang cenderung mengintegrasikan pendekatan-pendekatan sebelumnya menjadikan batas-batas pendekatan yang telah dibicarakan menjadi tidak jelas. Namun demikian, ada pendekatan yang tetap berakar pada pendekatan-pendekatan tertentu. Bagian berikut ini akan membicarakan pendekatan baru dalam manajemen.
1. Pendekatan Sistem
Sistem dapat diartikan sebagai gabungan sub-subsistem yang saling
berkaitan. Organisasi sebagai suatu sistem akan dipandang secara
keseluruhan, terdiri atas bagian-bagian yang berkaitan (subsistem), dan sistem/organisasi tersebut akan berinteraksi dengan lingkungan. Pandangan yang menyeluruh semacam itu akan lebih bermanfaat dibandingkan dengan pandangan yang terisolasi.
Model sistem dapat digambarkan sebagai berikut ini.
Gambar 1.8 Model Sistem
Keterangan
1) Input organisasi : bahan mentah, manusia, modal keuangan, dan
informasi.
2) Proses transformasi: kegiatan dalam organisasi, contohnya adalah
sistem produksi, sistem pengendalian, dan administrasi.
3) Output : produk, keuntungan, dan informasi.
4) Umpan balik : umpan balik yang memberi masukan ke input dan proses
transformasi.
Ada beberapa istilah kunci dalam pendekatan sistem: sistem terbuka,
subsistem, sinergi, aliran (flow), feedback, dan entropi.
a. Sistem terbuka
Sistem yang terbuka berarti sistem tersebut berinteraksi dengan
lingkungan. Sebaliknya, sistem yang tertutup adalah sistem yang tidak berinteraksi dengan lingkungan. Semua organisasi merupakan sistem terbuka meskipun dengan tingkat yang berbeda-beda. Organisasi perusahaan barangkali lebih terbuka dibandingkan dengan organisasi terlarang. Tidak menyesuaikan lingkungan kadang-kadang dapat berakibat fatal terhadap organisasi. Perusahaan yang tidak mampu mengikuti perkembangan
konsumen tidak mampu menjual produknya dan akibatnya akan mati.
b. Subsistem
Subsistem merupakan bagian dari sistem, yaitu subsistem pemasaran, keuangan, dan produksi membentuk sistem perusahaan. Subsistem tersebut saling berkaitan. Perubahan pada subsistem produksi akan memengaruhi subsistem pemasaran dan keuangan. Pada akhirnya, sistem secara
keseluruhan. Manajer dengan demikian harus melihat, tidak hanya subsistem, tetapi juga keterkaitan antarsubsistem.
c. Sinergi
Jika subsistem bekerja sama, hasil yang diperoleh akan lebih efektif
dibandingkan mereka bekerja sendiri-sendiri. Sinergi sering dikaitkan dengan merger, yaitu dua perusahaan yang bersatu akan lebih efisien dibandingkan dengan dua perusahaan berjalan sendiri-sendiri.
d. Batasan sistem
Batasan sistem berhubungan dengan lingkungannya. Dalam sistem yang terbuka, batas tersebut fleksibel. Dalam sistem yang tertutup, batas tersebut kaku. Semakin lama ada kecenderungan organisasi harus mempunyai batasan sistem yang fleksibel karena tuntutan dari lingkungan semakin keras.
e. Aliran
Input mengalir ke sistem, kemudian diproses oleh sistem dan keluar
sebagai output. Bahan baku masuk ke pabrik, diproses, dan menjadi produk yang bisa dijual di pasar.
f. Feedback
Feedback atau umpan balik merupakan elemen penting dalam
pengendalian. Umpan balik informasi diberikan ke orang-orang yang tepat dalam organisasi, kemudian diproses lebih lanjut. Jika ada sesuatu yang melenceng dari rencana, perbaikan bisa dilakukan.
g. Entropi
Entropi merupakan proses ketika sistem menuju kehancuran. Jika
organisasi tidak mampu memproses feedback dengan baik dan tidak bisa menyesuaikan diri terhadap lingkungan, organisasi tersebut akan mati. Beberapa contoh perusahaan yang tidak mampu menyesuaikan perubahan selera konsumen atau lingkungan akan mengalami kebangkrutan dan mati. Aliran sistem percaya bahwa aliran sistem akan menyerap aliran lainnya atau berkembang menjadi aliran yang dominan dengan definisi aliran yang jelas. Sampai saat ini, tampaknya aliran sistem akan masuk dalam aliranaliran pemikiran manajemen yang sudah ada. Aliran sistem selama ini sudah masuk dalam pemikiran manajemen yang sudah ada meskipun barangkali belum berbentuk dengan jelas.
2. Pendekatan Situasional (Contingency)
Pendekatan klasik, perilaku, serta kuantitatif berusaha mencari prinsipprinsip manajemen yang universal, yang berlaku di mana saja, dan kapan saja. Pendekatan situasional mempunyai cara pandang yang berlawanan. Pendekatan ini menganggap bahwa efektivitas manajemen tergantung pada situasi yang melatarbelakangi. Prinsip manajemen yang sukses pada situasi
tertentu belum tentu efektif apabila digunakan di situasi lainnya. Tugas manajer adalah mencari teknik yang paling baik untuk mencapai tujuan organisasi dengan melihat situasi, kondisi, dan waktu yang tertentu. Sebagai contoh, manajer ingin menaikkan produktivitas. Aliran klasik akan menyarankan gaji dinaikkan, struktur organisasi diperjelas, dan teknik kerja diperbaiki. Aliran pendekatan hubungan manusia dan perilaku akan menyarankan pemerkayaan kerja (job enrichment). Pekerjaan dibuat lebih bervariasi dan tanggung jawab kerja diperluas. Pendekatan kuantitatif akan menyarankan model perencanaan dan pengendalian terbaru. Kesuksesan pendekatan tersebut akan sangat tergantung pada situasi yang ada. Apabila
pekerja tidak mempunyai keterampilan yang cukup, pendekatan yang diajukan oleh aliran klasik akan lebih efektif. Sebaliknya, apabila pekerja mempunyai keterampilan yang baik, pendekatan perilaku akan lebih efektif. Apabila pekerja sudah cukup maju, pendekatan aliran kuantitatif akan sangat membantu. Pendekatan situasional memberikan “resep praktis” terhadap persoalan manajemen. Tidak mengherankan pendekatan ini dikembangkan manajer, konsultan, atau peneliti yang banyak berkecimpung dengan dunia nyata. Pendekatan ini menyadarkan manajer bahwa kompleksitas situasi manajerial membuat manajer lebih fleksibel atau sensitif dalam memilih teknik-teknik manajemen yang terbaik berdasarkan situasi yang ada. Pendekatan ini dikritik karena tidak menawarkan sesuatu yang baru. Pendekatan ini belum dapat dikatakan sebagai aliran atau disiplin manajemen baru yang mempunyai batas-batas yang jelas.
3. Pendekatan Hubungan Manusiawi
Human Relation berarti berkaitan dengan hubungan antar manusia. Pendekatan ini melihat bahwa manusia merupakan makhluk yang emosional, intuitif, dan kreatif. Dalam pendekatan hubungan manusia baru ini dikenalkan TQM (Total Quality Management) yaitu sebuah konsep yang memfokuskan pada pengelolaan organisasi secara keseluruhan untuk memberikan kualitas kepada pelanggan.
4. Pandangan Integratif
Setelah membicarakan aliran-aliran manajemen, bagian berikut ini
membicarakan integrasi aliran tersebut dalam satu kerangka sekaligus
meringkas aliran-aliran tersebut.
Gambar 1.9 Pendekatan IntegratifManajer harus mampu melihat ketergantungan antarbagian dalam
organisasi, pengaruh lingkungan eksternal, dan keunikan situasi yang
dihadapi. Setelah memahami ketiga hal tersebut, manajemen dapat memilih
pendekatan mana yang paling baik untuk diterapkan pada situasi yang
dihadapi.
Rokhayati, Isnaeni. 2014, Perkembangan teori manajemen dan pemikiran scientific management hingga era modern suatu tinjauan pustaka, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol. 15 nomor 02.
Jones, Gareth R. George, Jennifer M. 2014, Contemporary Management, Global Edition. Singapore: Mc Graw Hill Education.
BA_MANAJEMEN_Perkembangan_Teori_Manajemen
Brealy, Richard A. Myers, Stewart C. Allen, Franklin. 2014, Principles of Corporate Finance, Global Edition. Berkshire (UK): Mc Graw Hill Education.
Artikelnya menarik & lengkap, saat ini sangat baik karena sudah ditambahkan daftar link Referensi/sumber dalam mengembangkan artikel ini.. Good job 😊👍 Pertahankan ya 👌😉
BalasHapus